Kilas Balik Kiprah RRI di Awal Kemerdekaan:
Memperingati 80 Tahun Mengudaranya RRI
Oleh: Novia Rahmadani, S.Hum
“Sekali mengudara, tetap mengudara”. Slogan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan napas panjang Radio Republik Indonesia (RRI) sejak berdiri hingga kini. Sebagai lembaga penyiaran publik tertua di tanah air, RRI telah menjadi ruang bersama bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh informasi, hiburan, dan pendidikan. Dari era perjuangan kemerdekaan hingga zaman digital saat ini, RRI tetap setia mengudara, menghubungkan masyarakat dari Sabang sampai Merauke.
Sebelum lahirnya RRI, Hindia Belanda telah memiliki stasiun Bataviase Radio Vereeniging (BRV) pada 16 Juni 1925 di Batavia. Fungsi utamanya tak lain sebagai corong kepentingan kolonial. Namun, peta siaran berubah drastis pasca proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam rapat bersejarah 11 September 1945, disepakati berdirinya RRI, satu bulan setelah Jepang menghentikan siaran Hoso Kyoku. Dari stasiun yang diambil alih di Jakarta, suara kemerdekaan mulai dipancarkan ke seluruh pelosok negeri. Sosok Abdulrahman Saleh tampil sebagai pemimpin pertama, menakhodai perjalanan RRI yang baru memulai pelayaran.
Di tengah keterbatasan teknologi kala itu, radio menjadi saluran vital. Masyarakat di luar Jakarta mustahil segera mengetahui berita proklamasi tanpa gelombang siaran. Melalui stasiun-stasiun lokal yang kemudian bergabung di bawah RRI, teks proklamasi menggema ke berbagai penjuru Nusantara. Maknanya, radio bukan sekadar alat penyampai kabar, melainkan simbol kedaulatan. Di era itu radio dianggap sebagai penyalur informasi yang mengambil peran untuk menyiarkan kemerdekaan Indonesia sejauh ia dapat “mengudara (Nazir, 2016).
Lantas jika kita mundur 80 tahun ke belakang, bagaimana kiprah dari Radio Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan? Radio Republik Indonesia mengambil peran yang besar pada masa awal transformasi Indonesia dari era penjajahan ke era kemerdekaan. Bahkan pada masa genting revolusi ketika Belanda hendak kembali menguasai Indonesia, RRI menjadi alat propaganda yang efektif untuk menyiarkan berita perjuangan dan situasi-situasi darurat. Selain menyuarakan semangat juang, RRI juga menjadi salah satu alat diplomasi Indonesia ke dunia luar. Siaran luar negeri yang dipancarkan pada masa itu mengabarkan perjuangan bangsa Indonesia agar dunia mengetahui bahwa republik muda ini tengah merangkak naik. Publik internasional mendengar langsung kabar tentang revolusi Indonesia melalui gelombang radio, sehingga simpati dan dukungan bagi Indonesia semakin mengalir. Peran ini jarang disorot, padahal kontribusinya sangat besar bagi pengakuan kedaulatan Indonesia.
Selain berperan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia pasca proklamasi, RRI juga tampil sebagai wujud kemandirian teknologi. Di tengah keterbatasan sumber daya teknologi saat itu, dengan semangat patriotisme dan konsistensi yang dijunjung tinggi oleh para pelopor, RRI tetap menyiarkan berita dan informasi dengan sarana dan prasarana seadanya. Nilai-nilai semangat patriotisme yang dirawat oleh orang-orang di balik nama besar RRI tersebut membuahkan keberlanjutan eksistensinya hingga detik ini.
Kini setelah 80 tahun berlalu, wajah RRI telah banyak berubah Dari siaran analog ke digital, dari pemancar sederhana hingga teknologi streaming, RRI beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Namun, esensi awalnya tetap sama, yakni memberikan informasi terpercaya, mendidik masyarakat, dan memperkuat jati diri bangsa. Dengan 62 stasiun di seluruh Indonesia, termasuk siaran luar negeri, RRI hadir hingga ke pelosok negeri. Di tengah derasnya arus globalisasi, RRI masih memegang teguh fungsi sebagai perekat kebangsaan.
Tantangan era digital saat ini memang besar. Generasi muda lebih akrab dengan media sosial dan konten visual yang serba cepat. Namun, bukan berarti radio kehilangan relevansinya. Justru di tengah banjir informasi yang kadang simpang siur, radio hadir sebagai alternatif yang lebih jernih dan dapat dipercaya. RRI telah melangkah ke ranah digital, menghadirkan layanan streaming, aplikasi, serta kanal podcast yang bisa diakses kapan saja. Dengan inovasi ini, RRI menegaskan dirinya bukan sekadar media masa lalu, melainkan media yang berorientasi untuk masa depan
Menengok kembali perjalanan sejarahnya, kita dapat belajar bahwa media massa memiliki peran vital dalam perjalanan bangsa. RRI bukan hanya penyiar berita, tetapi juga penjaga semangat persatuan. Ke depan, harapan besar tertumpang pada RRI. Di era kecerdasan buatan dan disrupsi digital, RRI diharapkan mampu terus bertransformasi dan beradaptasi sembari tetap menjaga nilai-nilai kebangsaan. Sebab, di balik semua kecanggihan teknologi, yang paling penting adalah ruh kebersamaan dan semangat persatuan. RRI memiliki modal sejarah dan legitimasi moral untuk terus menjadi media publik yang terpercaya.
Referensi
Kustiawan, W., Maulana, A. S., Harahap, A. I., Muhammad, M., & Zulhafiz. (2022). Evolusi Radio Republik Indonesia (RRI) Sebagai Situs Media Informasi Tertua dan Eksistensinya di Masa Modern. Jurnal Ilmiah Teknik Informatika dan Komunikasi, 66-69.
Mukidi, & Santoso, D. (1999). Perjuangan RRI Surabaya. Surabaya: RRI Surabaya.
Nazir, M. (2016). Peranan Radio Republik Indonesia (RRI) Pada Masa Awal Kemerdekaan di Palembang Tahun 1945-1949. Skripsi, 58.

